Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quote. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2014

Film Review: Chef (2014)

Deskripsi singkat:

Film ini bercerita tentang seorang chef (juru masak) yang memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai head-chef di restoran ternama di Los Angeles setelah konflik antara dirinya dan kritikus-sekaligus-food blogger menjadi perhatian media sosial di internet. Akibat konflik itu juga ia memutuskan untuk 'kembali ke awal', ke dirinya 10 tahun lalu di mana dia masih chef baru yang penuh semangat dan inspirasi serta penuh ide-ide baru dalam menciptakan makanan yang tidak hanya enak di lidah tetapi juga mampu menyentuh hati orang-orang.

Film ini ditulis dan disutradarai oleh Jon Favreau, dibintangi oleh dirinya sendiri sebagai pemeran utama dan Sofia Vergara, John Leguizamo, Emjay Anthony, Scarlett Johansson, Bobby Cannavale, Robert Downey, Jr., dll. Genre: drama komedi. Durasi: 114 menit.

Review:

Spoiler alert! Better not read it if you haven't watch the movie yet.

Seperti yang pernah disebutkan oleh entah-siapa-saya-lupa dalam sebuah talk show, 15 menit pertama sebuah film merupakan yang paling penting dari keseluruhan film. Kalau 15 menit pertama itu berhasil membuat penonton duduk diam dan menyaksikan filmnya dengan penuh perhatian, maka bisa dibilang film itu akan sukses. 15 menit pertama film ini sukses membuat saya duduk diam dan memperhatikan filmnya dengan seksama. Entah mungkin karena makanan yang ditayangkan? Entahlah. (Meskipun, menurut saya '15 menit pertama bagus = sukses' itu tergantung di mana penonton itu menonton film itu, apakah di bioskop atau di rumah lewat DVD/Blu-ray. Selain itu, dalam film sukses di awal tidak menjamin kesuksesan filmnya secara utuh.)

Ceritanya menarik, tentang seorang chef yang mencoba mencari kembali jati dirinya yang hilang setelah bertahun-tahun bekerja sebagai 'tukang masak' di restoran ternama di bawah perintah seorang bos yang bertindak semaunya. Ia kemudian menyadari apa yang terjadi dengan hidupnya dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik. Ide besar ceritanya sebenarnya menarik, sayang alur filmnya berjalan lambat. Akibatnya, film jadi terasa berakhir dengan terburu-buru. Dan akhirnya sangat mudah ditebak. Happy ending. Selesai. Kurang twist atau konflik antar tokohnya, cuma percik-percik kecil seperti adu mulut. Itupun cepat selesainya.

Hubungan tiap karakternya pun mudah ditebak. Ayah dan anak yang jarang berkomunikasi. Ayah ibu yang sudah bercerai dan bergantian menghabiskan waktu dengan anaknya. Ayah yang sibuk bekerja dan tidak peka terhadap anaknya, merasa bahwa pergi ke sana kemari bersama anak itu merupakan kegiatan yang menyenangkan tanpa obrolan atau saling curhat dari hati ke hati. Mantan suami istri yang masih saling mencintai, dan si anak berharap mereka kembali bersama.  Mantan istri yang sukses dan sibuk, punya uang banyak dan ingin membantu mantan suami, tapi ditolak mentah-mentah karena masalah harga diri. Rekan kerja yang mendeklarasikan diri akan setia kawan dalam suka dan duka, lalu waktu ada goncangan segera saja memilih jalur yang lebih aman untuk karir mereka sendiri.

Tapi di luar semua hal-yang-mudah-ditebak-dari-film-ini di atas, secara naskah film ini cukup bagus. Memang hubungan tiap karakternya kurang tergali dan kurang berkembang, tapi karakter-karakter utamanya ya. Membuat saya berpikir kembali, kelak kalau saya punya sesuatu yang saya sangat cintai tapi lalu harus dilepaskan begitu saja karena hal sepele, apa saya bisa mengatasinya?

Bagian yang paling saya suka adalah saat Ramsey Michel akhirnya menerima tantangan Carl untuk datang lagi ke restoran itu dan mencicipi menu baru, tapi Carl sudah keluar dari restoran itu dan berhenti sebagai head chef di sana. Saya suka ketika Carl akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasakan tentang kritik Michel, kalau kritiknya itu menyakitkan. Kalau dia terluka akibat kritiknya itu. Selain bagian ini, saya juga suka karena setiap karakter di sini mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kalau sakit mereka bilang sakit, kalau marah mereka marah.

Oh ya, meskipun film ini ditulis ber-genre drama komedi, menurut saya filmnya kurang unsur komedi. Satu-satunya adegan yang bikin saya ketawa ngakak adalah booties. Serius, itu adegan paling konyol sepanjang film. Film ini saya rasa lebih banyak adegan yang mencoba membuat penonton tersentuh ketimbang tertawa. Beberapa berhasil membuat saya tersentu memang, beberapa tidak.

Satu hal yang jadi pertanyaan saya dari film ini adalah: ke mana semua makanan yang disiapkan Carl di rumahnya yang awalnya dia rancang untuk menantang Ramsey? Waktu Carl bilang dia sedang memarkir mobilnya, saya kira dia datang sambil membawa makanannya itu. Tapi ternyata tidak. Padahal dia juga menciptakan makanan tidak sedikit, dengan bahan makanan yang mahal pula tampaknya. Masakan sebanyak itu dia makan sendiri?

Kutipan kalimat yang paling saya suka dari film ini:
"Semua hal baik dalam hidupku, terjadi karena itu (memasak). Aku mungkin tidak mahir dalam segala hal. Aku tidak sempurna. Aku bukan suami yang baik, dan aku minta maaf kalau aku bukan ayah yang baik. Tapi bagus dalam ini (memasak). Dan aku ingin membaginya denganmu. Aku ingin mengajarkanmu apa yang sudah kupelajari." - Carl Casper
 Terakhir, suka sekali dengan karakter Percy di film ini. Si kecil berwajah manis yang cool. Keren! Paling suka dengan kalimat Percy yang ini:
"Lalu? Aku dengar kata-kata kasar setiap waktu."
Itu waktu ayahnya melarang Percy ikut ke dapur saat ayahnya sedang memasak karena di dapur banyak kata-kata kasar yang keluar. Dia memang sangat cool. Dan manis. :p

Secara keseluruhan film ini bagus untuk ditonton kalau kalian ingin menonton sebuah film yang enak (dalam konteks makanan), sebuah film keluarga, dan film tentang pencarian jati diri. Tapi film ini tidak baik ditonton saat lapar atau saat sedang tidak punya uang, hanya akan membuat kalian meringis miris lihat makanan-makanannya yang tampak enak dan mahal. Film ini juga tidak baik ditonton untuk--yang seperti saya--banyak maunya, tapi tidak tahu mulainya dari mana dan bagaimana. Karena begitu nonton film ini, jadi pengen kursus masak, pengen jadi chef tapi itu pasti butuh waktu, tenaga, dedikasi, dan duit yang tidak sedikit. So silly of me.

Saya beri nilai 7,2/10,0. 

ps: 0,5 - 1 poinnya berasal dari makanan-makanan enak yang ditampilkan di flm ini, hahaha. Although IMDb rating is higher than mine, I think that's a bit overrated. And maybe all those people who gave good rating for the film--just like me--are those who couldn't resist all the delicious food that was shown here.)

Jumat, 22 Agustus 2014

When you think you can't go on any longer...

When you think you can't go on any longer, true endurance comes into play. When you think you can't go on any longer is the starting point of your true fight. Don't let your failures put you down. Turn them into stepping stones. I hope you achieve your dreams and control of your future.

Saat Anda merasa tidak sanggup lagi, saat itulah kekuatan yang sesungguhnya dimulai. "Aku sudah tidak kuat lagi", "Aku sudah tidak tahan lagi", saat itulah perjuangan Anda yang sebenarnya dimulai. Kegagalan bukanlah sebuah kegagalan, melainkan batu loncatan dan melalui itulah saya harap Anda meraih impian dan masa depan Anda.

(Young-pyo Lee, ex-South Korean National Representative Football Player, KBS World's 'Happy Together' broadcasted on August 21th, 2014)

Kamis, 24 Oktober 2013

Miracle in Cell No. 7 - Penguras Air Mata

Nonton film ini tuh ya, sumpah, nguras air mata. Meskipun gue merasa lebih baik karena gara-gara film inilah gue bisa nangis lagi sampe sesenggukan dan meluapkan banyak beban yang membuat dada sesak. Berbagai macam beban, mulai dari yang hubungannya sama kampus sampe status sebagai seorang anak.
Gara-gara nonton film ini, gue bersyukur pernah ngerasain punya bapak yang mau mendukung gue bahkan di saat tersulit gue. Dan gue menyesal karena sekarang gue nggak punya bapak, dan nggak ada orang yang bisa speak up buat gue di saat gue terdesak dan kesulitan. Gue jadi inget waktu gue kelas 3 SD,  inget punggung bapak gue yang pergi keluar dari kelas setelah  bilang sama Bu Maria buat ngebersihin nama baik gue. Waktu itu gue dituduh nyuri gelang emas 10 gram punya temen gue, padahal nggak. Ngeliat aja nggak pernah, gue bilang sama bapak. Dan bapak dateng ke sekolah, masih pake baju tidur cuma untuk ngebela gue di depan guru. Lalu gue mikir, seandainya bapak masih ada.. mungkinkah bapak juga dateng ke kampus waktu itu? Waktu gue nggak bisa membela diri gue sendirian?
Gara-gara nonton film ini, gue bersyukur pernah punya bapak yang meskipun nggak kayak bapak-bapaknya orang lain, dia nggak kalah baik dibandingin bapak orang lain. Bapak gue mungkin sering mukul gue dulu waktu kecil, tapi gue sekarang kangen banget dipukul bapak. Dipukul lagi juga gue rela, asal jangan sampe berdarah-darah aja. Buat gue sekarang, itu mungkin cara khususnya bapak nunjukkin sayangnya sama gue. Meskipun sempat membuat gue benci setengah mati sama bapak. Tapi tau kan, kata orang sesuatu itu baru dirasain sangat berharga kalau itu udah nggak ada di hadapan kita. Dan begitulah bapak gue.
Gara-gara nonton film ini, gue bersumpah gue nggak akan pernah ngelupain bapak sama semua hal yang pernah dilakuin bapak sama gue. Baik atau buruk, bapak itu bapak gue. Yang selalu bikin gue nangis setiap kali nonton film tentang anak dan orang tua, bahkan ampe sekarang. Setelah dua ribu hari lebih dia nggak ada.
Gue bahkan berjanji dalam hati kalau gue akan memberikan apa yang bapak dulu harapkan. Gue akan sebisa mungkin berusaha dan berdoa supaya si Elsa bisa jadi jaksa. Seperti harapannya Bapak dulu.
Anyway, sudah ah sedih-sedihnya. Intinya sih, film ini bagus banget. Nggak heran kalo filmnya laku keras di sana, sampe ada di posisi teratas melulu kan sampe sekarang juga kayaknya masih. Buat ngerasa susah menjalani hidup, saran gue.. cari film yang sedih-sedih lalu nangis sepuasnya. Sesudahnya, kalo kalian ngerasa lebih lega, jalani lagi hidupmu seperti nggak ada apa-apa sebelumnya. Buat apa nahan-nahan air mata kalo ujung-ujungnya cuma nipu diri sendiri karena sok kuat. Mendingan nangis sekarang, terus berusaha lebih keras untuk membuat diri lebih kuat. Kan katanya hidup berjalan terus, jadi kita juga harus ikut berjalan. Hidup itu bukan eskalator yg akan membawa kita ke atas meskipun kita diem aja, hidup itu treadmill.. sama-sama jalan sendiri tapi kalo kamu nggak melangkah, kamu pasti akan jatuh. (Sok bijak ya gue, maafkan~)

Rabu, 29 Mei 2013

Every day you wake up in the morning.. remember this!

Everyday you're not dead in the ground. When you wake up in the morning, you're gonna have to make some decisions. Get to ask yourself this question "Am I gonna believe all the bad things the fools say about me today?". Aw right? (Constantine, The Help, 2011).

It made me cry.

Minggu, 14 April 2013

Always.

Don't tell me now you've grown to care for him, Severus. After all this time? | Always (Dumbledore & Snape, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2).

Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and above all, all those who live d without love (Dumbledore, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2).

 ***

Kutipan-kutipan di atas adalah dua dari sekian banyak kutipan Harry Potter yang gua suka banget. Yang paling atas sih yang gua paling suka, dari semuanya (ketujuh seri-nya). Gua sampe nangis bahkan waktu nonton itu dulu. Siapa coba pernah nyangka kalau Snape itu jahat sama Harry cuma sebagai kedok doang. Dan betapa ternyata Harry itu disayang sama Snape kayak anaknya sendiri, demi cintanya sama Lily. Snape itu bentuk dari pepatah: cinta itu tak harus memiliki. Segitu cintanya sama Lily bahkan meskipun Lily menikah sama James. Segitu cintanya sama Lily sampai rela ngasih kesetiaannya sama orang lain demi menyelamatkan orang yang dia cintai dan keluarganya dari tuannya yang mau membunuh mereka. Manis banget, buat gue sebagai pembaca.. meskipun kalau ada orang yang ngalamin kayak gitu kayaknya sih pahit nasib cintanya.
Ada nggak ya orang yang mau mencintai gue sampai segitunya? Well, kalau gue sih mungkin gue mau. Kalau memang orangnya layak untuk gue cintai sampai segitunya.

Rabu, 20 Maret 2013

Napak Tilas Itu Seru Ternyata

"Coba deh kalian napak tilas gitu, apa saja kebaikan dan kejahatan yang sudah gua lakukan hari ini. Pasti seru.."

Kalo nggak salah begitu yang pernah gua denger dari salah seorang dosen. Awalnya gua mikir kayak "yang bener aja lo, dos? napak tilas banget?" gitu. Tapi terus kemaren gua secara sengaja tidak sengaja melakukannya. Gua "hitung" tuh kebaikan dan kejahatan yang sudah gua lakukan hari itu. Terus ternyata lebih banyak kejahatannya (seperti seharusnya). Kenapa seperti seharusnya? Karena memang aneh juga kalau ternyata lebih banyak kebaikan daripada kejahatan yang gua lakukan hari ini. Bahkan sama diri gua sendiri aja lebih banyak kejahatannya daripada kebaikan.

Terus pas napak tilas buat hari kemaren itu, eh malah ikut keingetan kebaikan dan kejahatan yang gua lakukan di hari sebelumnya dan sebelumnya-sebelumnya lagi. Dan gua jadi agak capek juga sih. Kalau bukan karena baca komik dan ketiduran, mungkin susah berhentinya itu napak tilas gua.

Setelah di-napak tilas, ternyata kejahatan yang paling sering gua lakukan adalah "thinking out loud" yang kalo didenger orang jatohnya malah jadi sarkasme. Gua malah jadi ngomong "jablay dasar lo", "goblok lo", "bego lo" atau apa yang ujungnya "... lo" gitu-gitu. Gua banyak menghina orang (nggak nyadar ini orang kalau dirinya sendiri juga hina-able *self-talk*).

Kemaren gua inget tuh bilang "goblok" ke Afa, Gina, Nezza, Rianty, dan Runti *yang gua inget itu*. Terus gua bilang "jablay" sama temen-temen kelompok KAUP gua. Terus bilang "gendut" sama Billy, eh sama si Nezza juga. Terus yaudah gua minta maaf tuh, sama Nezza karena dia orang yang paling sering gua bully kalau kata Manto, padahal sebenernya enggak. Lebih banyak Billy atau Runti atau temen-temen kelompok gua kali, kan mereka yang paling banyak berinteraksi sama gua. Gara-gara si Nezza bukan orang yang sering berinteraksi sama gua makanya gua minta maaf di Line. EEH dia bilang "nyantai aja, gua aja ga inget" gitu.. Gua malah jadi bingung, lah gua minta maaf sama dia bukan karena beneran mau minta maaf, tapi karena gua mau minta maaf sama diri sendiri. Jadi dengan gua minta maaf sama dia, gua berusaha memaafkan diri sendiri gitulah. Hahaha tapi yaudahlah, kalau dianya aja ga inget juga gapapa :p

Gua barusan habis minta maaf sama kelompok KAUP gua juga karena sering sarkasme yang kasar, tapi gua tambahin di belakangnya catatan yang paling penting bahwa
permintaan maaf dari gue ini bukan berarti kalau kelakuan buruk gue akan berkurang atau gimana. hanya formalitas belaka saja itu
Hahahaha. Jadi besok-besok mungkin gua akan sering ngirim watsap atau line minta maaf sama orang. Walaupun itu tidak berarti gua akan berubah hihi :D Eh jadi inget buddhist prayer of forgiveness yang pernah di share temen gua di facebook, walaupun nggak sama dengan apa yang gua doakan pikirkan atau lakukan, tapi doanya bagus jadi gua suka.

Doanya bagus kan?

Rabu, 06 Februari 2013

The Reason Why First Loves Are Unfulfilled

The reason why we think first love is beautiful is not because people we first love were actually handsome or pretty. It's because we were unconditional, innocent, or a bit stupid at the time of first love. And because we know that we can never go back to that young, passionate time of our days.

First love is a bit rash. Without any calculation, we throw ourselves with passion and finally come to face failure. But it is at the same time dramatic. It comes with inexplicable feelings that we never get to experience again. So first love becomes the most dramatic moment of our lives. It's okay to fail. Tragic stories stays longer than 'happily ever after'. It's nice to have that wonderful story as one chapter of one's life.

First love is a period of time. It never comes back. If the next love  comes, time has to yield for that new love. It might not be as innocent as the first love, but it would be a little more mature, due to the pain suffered with the first love.

A person who dreams of love, is the one who waits. And a person who waits can recognize the love when it comes near him.

After the romance, the real life comes in. Innocence gets dirty, passion gets cold, and youth gets old with cleverness. So first love becomes part of one's exhausted daily life. That's why first love looks like it can't be accomplished. Because no one talks about a successful romance with first loves.

(Yoon Yoonjae, 2012, tvN Original Drama: Reply 1997 eps. 16)

Sabtu, 26 Januari 2013

Kabhi Khushi Kabhie Gham Part 2

Kalau post sebelumnya itu narasi yang muncul di awal film, post ini isinya kutipan-kutipan dialog/monolog yang gua suka dari film ini

1. If you want to be someone in life, if you want to achieve something, if you want to win, always listen to your heart. And if your heart doesn't give you any answers, close your eyes and think of your parents. And then, you will cross all the hurdles.. all your problems will vanish, victory will be yours. Only yours.

2. Life offers you many paths to choose from. You must always choose the one that is right, the one where you don't have to bend, where you don't fall. Never take a step in life that will bring shame to your family name or prestige. Anyone can make money, but earning respect is not everyone's cup of tea.

3. My father always says that no one becomes small by asking for forgiveness. And the one who forgives owns a big heart.

4. Ever since I can remember I have loved you. Loved you very much. But it isn't your fault. Just because I dreamt of marrying you, doesn't mean you have to marry me. And if you worried that I will miserable, yes I will be. I will feel very bad, it will hurt a lot to. But life doesn't stop, does it? Perhaps a few years from now I can laugh at the fact that I love you who could not become mine. Because he was never mine. And my love story remained incomplete. But do me a favor, please complete your love story.

5. Where did I think, Dad? I didn't think at all. I just loved.. love.

Kabhi Khushi Kabhie Gham

Why is that a father is never able to tell his son how much he loves him? He's never able to embrace him and say 'I love you mu son'?

And the mother? She keeps repeating it, whether her son listens to it or not.

But that doesn't mean a father loves his son any less.

No one can fathom the amount of love that a mother has for her son, not even the mother. Because there is no measure for a mother's love. It's an emotion that can only be felt, a mother's emotion.

Note: ini adalah narasi yang diucapin sama pemeran Papa dan Mama Rahul (Amitabh Bhachan & istrinya), di film Kabhi Khushi Kabhie Gham yang udah entah untuk keberapa kalinya gua tonton. Gua suka banget sama kalimat yang di-bold itu. :)