Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 September 2015

Review Film: Jab Tak Hai Jaan (2012)

Hell~O everyone!
LOL.

I'm back! *wth, as if I've been away for years*

I dunno, I just want to share a review about this movie "Jab Tak Hai Jaan", one of Shah Rukh Khan's movie that was released in 2012. I watched the movie on Monday night, because lately, I have this urge to catch up his movies. Latest movie I watch is Rab Ne Bana Di Jodi and My Name Is Khan. Those two are the most recent movies of him which I watched after Kuch Kuch Hota Hai. Lol.

Now, I'm gonna shut the crap off. Let's review the movie. Spoiler alert!


The movie tells a story about Major Samar Anand, a leader in Bomb Disposal Squad of Indian Army. The story starts off with him defusing a bomb, without any protection and he shows no fear of death. Then, on one of his day off, he went to a lake and met Akira Rai, a new recruit of Discovery Channel who was drowning. Akira cries for help but he shows no interest to help, but then he helped her but left her alone after she opened her eyes. After that, Akira went back to her place and found Samar's note in one of his jacket pockets. Akira read the note that tells the life story of Samar Anand, what he has gone through life for the past ten years.

Ten years ago, Samar was just an immigrant in London who worked three to four part time daily to get by. One day, he met Meera, a young-proud-beautiful business woman who is engaged to her family's old friend. She asked Samar to teach her how to sing a song in Punjabi language for a month, as a surprise gift for her ftaher that is turning 50. He agreed and the two meet frequently, and later they develop feelings for each other. One day, Samar got into accident and went on comatose status. Meera prayed to God, asking that nothing happened to him, in return, she will never meet him again.

Ten years later, Akira who has read his life story, asking her supervisor to bring up the story. Her supervisor agreed and requires it to be good or she will not be hired as permanent staff. Feeling ecstatic, she flies to Samar's barack alone and asking for his cooperation.

The two were not getting along very well. Samar was a secluded cold-blooded type who never let anyone got involved with him. One morning after Samar defused a bomb, Akira found him alone in the river banks, singing his favorite song. After that day, she and Samar grew closer with each other and Akira soon develop feelings for him.

Weeks later, Akira in the office and her supervisor told her that she likes her report. She will be assigned as permanent staff only if Samar come to London to be interviewed exclusively by the channel. Akira knows that Samar has promised to never set foot again in London, but still tries to invite him. Samar refused at first, but then on the deadline date, he appears. She reach him happily and tease him by walking backwards not realising that there's a truck approaching her. Samar pushed her away and got hit instead.

Samar is in the hospital. He got amnesia and his memories went back into 2002, where he had hit by a car as well. He asked for Meera. Akira was in shocked, but she went to find Meera for Samar's sake. Meera was reluctant at first by her proposal, but then agreed to pretend that she and Samar is a couple. Few days passed and one day, Samar heard announcement about a bomb terror while he was walking on London road. All at once, strips of memories come through and he remembers that he is Major Samar Anand of Indian Army.

He felt ridiculed by the fact that Meera was not his wife and played a prank using Meera's lies about their marriage. He's angry at her and left her alone. Akira sends him off and he asks her not be like him. She said it's too late.

After the separation, Samar go back to his place in the army barack and as he is defusing his 108th bomb, his story is being presented by Akira. As Akira explains about the Samar's life story, the screen shows Meera visiting Samar in India. Samar jokes that that day might be he is gonna be dead for he sees Meera in there. But then Samar and Meera reunited and the two hugs each other, maybe they'll live happily ever after.

The End. LOL.

Now, this is my review. I, even though I kind of love Indian drama films produced by Yash Chopra, I always wonder why and how the movie develop like that. I questioned a lot during the whole movie.

First, isn't Meera a business woman? A proud and super busy business woman, yet she has all the time to walk around London with Samar. And isn't Samar portraid as someone who do 3-4 part time works a day at first? How the hell did he get time between his busy schedule to teach Meera singing and moving around London everyday for a month?

Second, what is Akira doing in the lake actually? And how the heck she get to the center of the lake? I didn't see any boat.. and if she doesn't use boat, she must've been swimming all the way there, but how she get cramp and drowned if she already swam from the shore to the center of the lake before? She should've drowned before she could even jump from the rock.

Three, Akira was a journalist. She is a journalist and how could she be so careless while reporting from a place which got bombs planted all over the area. She wasn't there for fun, imho awareness and carefulness(?) is traits that a journalist should have, how could she be chosen into the Discovery Channel if she got nothing of that?

Four, the story is cliche, Samar got into accident and go back to his memories of 2002. But how, how the hell he could remember all of his lost memories for ten years in a split of second after asked who is he? As far as I remember, Retrogade Amnesia cause memory loss and temporary remove most of the patients episodic memories. A person with RA still got their old skills because it is located in different part of the brain, but when the memories made its come back.. the patient usually got a severe headache and not all memories can come back in a split of second. It took a long time to recover for a person with RA.

LOL. There was so many questions that I asked when I watch the movie but now I couldn't remember anything anymore. Anyway, I give this movie 6 of 10, it was ok to watch.

Now, so long folks! Have a nice day :)

Rabu, 08 Oktober 2014

Film Review: Chef (2014)

Deskripsi singkat:

Film ini bercerita tentang seorang chef (juru masak) yang memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai head-chef di restoran ternama di Los Angeles setelah konflik antara dirinya dan kritikus-sekaligus-food blogger menjadi perhatian media sosial di internet. Akibat konflik itu juga ia memutuskan untuk 'kembali ke awal', ke dirinya 10 tahun lalu di mana dia masih chef baru yang penuh semangat dan inspirasi serta penuh ide-ide baru dalam menciptakan makanan yang tidak hanya enak di lidah tetapi juga mampu menyentuh hati orang-orang.

Film ini ditulis dan disutradarai oleh Jon Favreau, dibintangi oleh dirinya sendiri sebagai pemeran utama dan Sofia Vergara, John Leguizamo, Emjay Anthony, Scarlett Johansson, Bobby Cannavale, Robert Downey, Jr., dll. Genre: drama komedi. Durasi: 114 menit.

Review:

Spoiler alert! Better not read it if you haven't watch the movie yet.

Seperti yang pernah disebutkan oleh entah-siapa-saya-lupa dalam sebuah talk show, 15 menit pertama sebuah film merupakan yang paling penting dari keseluruhan film. Kalau 15 menit pertama itu berhasil membuat penonton duduk diam dan menyaksikan filmnya dengan penuh perhatian, maka bisa dibilang film itu akan sukses. 15 menit pertama film ini sukses membuat saya duduk diam dan memperhatikan filmnya dengan seksama. Entah mungkin karena makanan yang ditayangkan? Entahlah. (Meskipun, menurut saya '15 menit pertama bagus = sukses' itu tergantung di mana penonton itu menonton film itu, apakah di bioskop atau di rumah lewat DVD/Blu-ray. Selain itu, dalam film sukses di awal tidak menjamin kesuksesan filmnya secara utuh.)

Ceritanya menarik, tentang seorang chef yang mencoba mencari kembali jati dirinya yang hilang setelah bertahun-tahun bekerja sebagai 'tukang masak' di restoran ternama di bawah perintah seorang bos yang bertindak semaunya. Ia kemudian menyadari apa yang terjadi dengan hidupnya dan mencoba menjadi manusia yang lebih baik. Ide besar ceritanya sebenarnya menarik, sayang alur filmnya berjalan lambat. Akibatnya, film jadi terasa berakhir dengan terburu-buru. Dan akhirnya sangat mudah ditebak. Happy ending. Selesai. Kurang twist atau konflik antar tokohnya, cuma percik-percik kecil seperti adu mulut. Itupun cepat selesainya.

Hubungan tiap karakternya pun mudah ditebak. Ayah dan anak yang jarang berkomunikasi. Ayah ibu yang sudah bercerai dan bergantian menghabiskan waktu dengan anaknya. Ayah yang sibuk bekerja dan tidak peka terhadap anaknya, merasa bahwa pergi ke sana kemari bersama anak itu merupakan kegiatan yang menyenangkan tanpa obrolan atau saling curhat dari hati ke hati. Mantan suami istri yang masih saling mencintai, dan si anak berharap mereka kembali bersama.  Mantan istri yang sukses dan sibuk, punya uang banyak dan ingin membantu mantan suami, tapi ditolak mentah-mentah karena masalah harga diri. Rekan kerja yang mendeklarasikan diri akan setia kawan dalam suka dan duka, lalu waktu ada goncangan segera saja memilih jalur yang lebih aman untuk karir mereka sendiri.

Tapi di luar semua hal-yang-mudah-ditebak-dari-film-ini di atas, secara naskah film ini cukup bagus. Memang hubungan tiap karakternya kurang tergali dan kurang berkembang, tapi karakter-karakter utamanya ya. Membuat saya berpikir kembali, kelak kalau saya punya sesuatu yang saya sangat cintai tapi lalu harus dilepaskan begitu saja karena hal sepele, apa saya bisa mengatasinya?

Bagian yang paling saya suka adalah saat Ramsey Michel akhirnya menerima tantangan Carl untuk datang lagi ke restoran itu dan mencicipi menu baru, tapi Carl sudah keluar dari restoran itu dan berhenti sebagai head chef di sana. Saya suka ketika Carl akhirnya mengungkapkan apa yang dia rasakan tentang kritik Michel, kalau kritiknya itu menyakitkan. Kalau dia terluka akibat kritiknya itu. Selain bagian ini, saya juga suka karena setiap karakter di sini mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Kalau sakit mereka bilang sakit, kalau marah mereka marah.

Oh ya, meskipun film ini ditulis ber-genre drama komedi, menurut saya filmnya kurang unsur komedi. Satu-satunya adegan yang bikin saya ketawa ngakak adalah booties. Serius, itu adegan paling konyol sepanjang film. Film ini saya rasa lebih banyak adegan yang mencoba membuat penonton tersentuh ketimbang tertawa. Beberapa berhasil membuat saya tersentu memang, beberapa tidak.

Satu hal yang jadi pertanyaan saya dari film ini adalah: ke mana semua makanan yang disiapkan Carl di rumahnya yang awalnya dia rancang untuk menantang Ramsey? Waktu Carl bilang dia sedang memarkir mobilnya, saya kira dia datang sambil membawa makanannya itu. Tapi ternyata tidak. Padahal dia juga menciptakan makanan tidak sedikit, dengan bahan makanan yang mahal pula tampaknya. Masakan sebanyak itu dia makan sendiri?

Kutipan kalimat yang paling saya suka dari film ini:
"Semua hal baik dalam hidupku, terjadi karena itu (memasak). Aku mungkin tidak mahir dalam segala hal. Aku tidak sempurna. Aku bukan suami yang baik, dan aku minta maaf kalau aku bukan ayah yang baik. Tapi bagus dalam ini (memasak). Dan aku ingin membaginya denganmu. Aku ingin mengajarkanmu apa yang sudah kupelajari." - Carl Casper
 Terakhir, suka sekali dengan karakter Percy di film ini. Si kecil berwajah manis yang cool. Keren! Paling suka dengan kalimat Percy yang ini:
"Lalu? Aku dengar kata-kata kasar setiap waktu."
Itu waktu ayahnya melarang Percy ikut ke dapur saat ayahnya sedang memasak karena di dapur banyak kata-kata kasar yang keluar. Dia memang sangat cool. Dan manis. :p

Secara keseluruhan film ini bagus untuk ditonton kalau kalian ingin menonton sebuah film yang enak (dalam konteks makanan), sebuah film keluarga, dan film tentang pencarian jati diri. Tapi film ini tidak baik ditonton saat lapar atau saat sedang tidak punya uang, hanya akan membuat kalian meringis miris lihat makanan-makanannya yang tampak enak dan mahal. Film ini juga tidak baik ditonton untuk--yang seperti saya--banyak maunya, tapi tidak tahu mulainya dari mana dan bagaimana. Karena begitu nonton film ini, jadi pengen kursus masak, pengen jadi chef tapi itu pasti butuh waktu, tenaga, dedikasi, dan duit yang tidak sedikit. So silly of me.

Saya beri nilai 7,2/10,0. 

ps: 0,5 - 1 poinnya berasal dari makanan-makanan enak yang ditampilkan di flm ini, hahaha. Although IMDb rating is higher than mine, I think that's a bit overrated. And maybe all those people who gave good rating for the film--just like me--are those who couldn't resist all the delicious food that was shown here.)

Senin, 06 Oktober 2014

Film: Miss Granny (수상한 그녀) - 2014






Sudah lama nggak pos tentang film... Jadi, mari kita mulai!

Deskripsi singkat:

Miss Granny (Hangul: 수상한 그녀; RR: Susanghan Geunyeo; lit. "Suspicious Girl") adalah sebuah film drama komedi (dirilis tahun 2014) dari Korea Selatan yang disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk. Na Moon-hee berperan sebagai seorang perempuan usia 70-an yang secara magis kembali menjadi gadis usia 20-an (Shim Eun-kyung) setelah difoto di sebuah studio foto misterius. Film ini dirilis di bioskop pada tanggal 22 Januari 2014 dan menjadi box office hit dengan penjualan sebesar 8.656.417 tiket dan menghasilkan pendapatan sebesar 6,25 Triliun Won. ---------- (baca lebih lanjut: Wikipedia)

Review:
Sejujurnya, awalnya agak malas menonton film ini. Karena kurang tertarik dengan tokoh utamanya--soalnya untuk genre ini, biasanya cuma nonton yang pemain utamanya Cha Taehyun--lagipula kurang tahu juga dia itu siapa. Tapi akhirnya nonton juga. Karena ada Lee Jin Wook.
Sumber gambar: Google
Awal cerita jalannya lambat sekali (atau mungkin keseluruhan film ini jalannya lambat? Sepertinya sih begitu). Ditambah lagi durasi yang lumayan panjang yaitu lebih dari dua jam, membuat semakin malas menonton film ini. Sampai akhirnya muncul Jinyoung dengan tampang manis tapi bloon-nya itu.
Sumber gambar: Google

Tapi tengah-menuju-akhir film, alurnya lebih cepat dari yang awal. Bahkan sampai dapat kesan kalau terlalu cepat, seolah-olah diburu waktu.

Soal cerita, cukup menarik. Tapi cukup klise (Iya nggak sih? Atau aku aja yang mikir begitu?) Tentang nenek-nenek, terus berubah secara magis jadi muda, terus terjadilah kekonyolan-kekonyolan akibat perubahan itu. Kayaknya film-film kayak ini bukan cuma sekali dua kali deh pernah nonton. Meskipun bukan persis nenek-nenek berubah jadi muda, intinya si pemerannya berubah dan terjadi kekonyolan. Klise.

Tapi aku suka pesan yang mau disampaikan sama film ini: jangan lupa atas jasa-jasa orang tua yang sudah membesarkanmu. Beberapa adegan cukup mengharukan, sampai-sampai ikutan nangis segala. Tapi sambil nangis, sambil ketawa juga karena adegannya mengharukan tapi konyol.

Oh iya, di film ini juga kan ada beberapa adegan main band. Nah, lagu-lagunya cukup bagus. Walaupun sayang sempat kena kasus plagiarisme katanya. Entah bagaimana kelanjutan kasusnya, tapi yang pasti lagunya bagus (dua-duanya, baik lagu yang dipakai di film maupun lagu yang katanya ditiru di film ini).

Aku kasih nilai 7.0/10.0 untuk film ini, karena berhasil bikin nangis.

Kamis, 24 Oktober 2013

Miracle in Cell No. 7 - Penguras Air Mata

Nonton film ini tuh ya, sumpah, nguras air mata. Meskipun gue merasa lebih baik karena gara-gara film inilah gue bisa nangis lagi sampe sesenggukan dan meluapkan banyak beban yang membuat dada sesak. Berbagai macam beban, mulai dari yang hubungannya sama kampus sampe status sebagai seorang anak.
Gara-gara nonton film ini, gue bersyukur pernah ngerasain punya bapak yang mau mendukung gue bahkan di saat tersulit gue. Dan gue menyesal karena sekarang gue nggak punya bapak, dan nggak ada orang yang bisa speak up buat gue di saat gue terdesak dan kesulitan. Gue jadi inget waktu gue kelas 3 SD,  inget punggung bapak gue yang pergi keluar dari kelas setelah  bilang sama Bu Maria buat ngebersihin nama baik gue. Waktu itu gue dituduh nyuri gelang emas 10 gram punya temen gue, padahal nggak. Ngeliat aja nggak pernah, gue bilang sama bapak. Dan bapak dateng ke sekolah, masih pake baju tidur cuma untuk ngebela gue di depan guru. Lalu gue mikir, seandainya bapak masih ada.. mungkinkah bapak juga dateng ke kampus waktu itu? Waktu gue nggak bisa membela diri gue sendirian?
Gara-gara nonton film ini, gue bersyukur pernah punya bapak yang meskipun nggak kayak bapak-bapaknya orang lain, dia nggak kalah baik dibandingin bapak orang lain. Bapak gue mungkin sering mukul gue dulu waktu kecil, tapi gue sekarang kangen banget dipukul bapak. Dipukul lagi juga gue rela, asal jangan sampe berdarah-darah aja. Buat gue sekarang, itu mungkin cara khususnya bapak nunjukkin sayangnya sama gue. Meskipun sempat membuat gue benci setengah mati sama bapak. Tapi tau kan, kata orang sesuatu itu baru dirasain sangat berharga kalau itu udah nggak ada di hadapan kita. Dan begitulah bapak gue.
Gara-gara nonton film ini, gue bersumpah gue nggak akan pernah ngelupain bapak sama semua hal yang pernah dilakuin bapak sama gue. Baik atau buruk, bapak itu bapak gue. Yang selalu bikin gue nangis setiap kali nonton film tentang anak dan orang tua, bahkan ampe sekarang. Setelah dua ribu hari lebih dia nggak ada.
Gue bahkan berjanji dalam hati kalau gue akan memberikan apa yang bapak dulu harapkan. Gue akan sebisa mungkin berusaha dan berdoa supaya si Elsa bisa jadi jaksa. Seperti harapannya Bapak dulu.
Anyway, sudah ah sedih-sedihnya. Intinya sih, film ini bagus banget. Nggak heran kalo filmnya laku keras di sana, sampe ada di posisi teratas melulu kan sampe sekarang juga kayaknya masih. Buat ngerasa susah menjalani hidup, saran gue.. cari film yang sedih-sedih lalu nangis sepuasnya. Sesudahnya, kalo kalian ngerasa lebih lega, jalani lagi hidupmu seperti nggak ada apa-apa sebelumnya. Buat apa nahan-nahan air mata kalo ujung-ujungnya cuma nipu diri sendiri karena sok kuat. Mendingan nangis sekarang, terus berusaha lebih keras untuk membuat diri lebih kuat. Kan katanya hidup berjalan terus, jadi kita juga harus ikut berjalan. Hidup itu bukan eskalator yg akan membawa kita ke atas meskipun kita diem aja, hidup itu treadmill.. sama-sama jalan sendiri tapi kalo kamu nggak melangkah, kamu pasti akan jatuh. (Sok bijak ya gue, maafkan~)

Rabu, 29 Mei 2013

Every day you wake up in the morning.. remember this!

Everyday you're not dead in the ground. When you wake up in the morning, you're gonna have to make some decisions. Get to ask yourself this question "Am I gonna believe all the bad things the fools say about me today?". Aw right? (Constantine, The Help, 2011).

It made me cry.

Minggu, 14 April 2013

Always.

Don't tell me now you've grown to care for him, Severus. After all this time? | Always (Dumbledore & Snape, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2).

Do not pity the dead, Harry. Pity the living, and above all, all those who live d without love (Dumbledore, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2).

 ***

Kutipan-kutipan di atas adalah dua dari sekian banyak kutipan Harry Potter yang gua suka banget. Yang paling atas sih yang gua paling suka, dari semuanya (ketujuh seri-nya). Gua sampe nangis bahkan waktu nonton itu dulu. Siapa coba pernah nyangka kalau Snape itu jahat sama Harry cuma sebagai kedok doang. Dan betapa ternyata Harry itu disayang sama Snape kayak anaknya sendiri, demi cintanya sama Lily. Snape itu bentuk dari pepatah: cinta itu tak harus memiliki. Segitu cintanya sama Lily bahkan meskipun Lily menikah sama James. Segitu cintanya sama Lily sampai rela ngasih kesetiaannya sama orang lain demi menyelamatkan orang yang dia cintai dan keluarganya dari tuannya yang mau membunuh mereka. Manis banget, buat gue sebagai pembaca.. meskipun kalau ada orang yang ngalamin kayak gitu kayaknya sih pahit nasib cintanya.
Ada nggak ya orang yang mau mencintai gue sampai segitunya? Well, kalau gue sih mungkin gue mau. Kalau memang orangnya layak untuk gue cintai sampai segitunya.

Rabu, 06 Februari 2013

The Reason Why First Loves Are Unfulfilled

The reason why we think first love is beautiful is not because people we first love were actually handsome or pretty. It's because we were unconditional, innocent, or a bit stupid at the time of first love. And because we know that we can never go back to that young, passionate time of our days.

First love is a bit rash. Without any calculation, we throw ourselves with passion and finally come to face failure. But it is at the same time dramatic. It comes with inexplicable feelings that we never get to experience again. So first love becomes the most dramatic moment of our lives. It's okay to fail. Tragic stories stays longer than 'happily ever after'. It's nice to have that wonderful story as one chapter of one's life.

First love is a period of time. It never comes back. If the next love  comes, time has to yield for that new love. It might not be as innocent as the first love, but it would be a little more mature, due to the pain suffered with the first love.

A person who dreams of love, is the one who waits. And a person who waits can recognize the love when it comes near him.

After the romance, the real life comes in. Innocence gets dirty, passion gets cold, and youth gets old with cleverness. So first love becomes part of one's exhausted daily life. That's why first love looks like it can't be accomplished. Because no one talks about a successful romance with first loves.

(Yoon Yoonjae, 2012, tvN Original Drama: Reply 1997 eps. 16)

Sabtu, 26 Januari 2013

Kabhi Khushi Kabhie Gham Part 2

Kalau post sebelumnya itu narasi yang muncul di awal film, post ini isinya kutipan-kutipan dialog/monolog yang gua suka dari film ini

1. If you want to be someone in life, if you want to achieve something, if you want to win, always listen to your heart. And if your heart doesn't give you any answers, close your eyes and think of your parents. And then, you will cross all the hurdles.. all your problems will vanish, victory will be yours. Only yours.

2. Life offers you many paths to choose from. You must always choose the one that is right, the one where you don't have to bend, where you don't fall. Never take a step in life that will bring shame to your family name or prestige. Anyone can make money, but earning respect is not everyone's cup of tea.

3. My father always says that no one becomes small by asking for forgiveness. And the one who forgives owns a big heart.

4. Ever since I can remember I have loved you. Loved you very much. But it isn't your fault. Just because I dreamt of marrying you, doesn't mean you have to marry me. And if you worried that I will miserable, yes I will be. I will feel very bad, it will hurt a lot to. But life doesn't stop, does it? Perhaps a few years from now I can laugh at the fact that I love you who could not become mine. Because he was never mine. And my love story remained incomplete. But do me a favor, please complete your love story.

5. Where did I think, Dad? I didn't think at all. I just loved.. love.

Kabhi Khushi Kabhie Gham

Why is that a father is never able to tell his son how much he loves him? He's never able to embrace him and say 'I love you mu son'?

And the mother? She keeps repeating it, whether her son listens to it or not.

But that doesn't mean a father loves his son any less.

No one can fathom the amount of love that a mother has for her son, not even the mother. Because there is no measure for a mother's love. It's an emotion that can only be felt, a mother's emotion.

Note: ini adalah narasi yang diucapin sama pemeran Papa dan Mama Rahul (Amitabh Bhachan & istrinya), di film Kabhi Khushi Kabhie Gham yang udah entah untuk keberapa kalinya gua tonton. Gua suka banget sama kalimat yang di-bold itu. :)