Sabtu, 26 Januari 2013

Kabhi Khushi Kabhie Gham Part 2

Kalau post sebelumnya itu narasi yang muncul di awal film, post ini isinya kutipan-kutipan dialog/monolog yang gua suka dari film ini

1. If you want to be someone in life, if you want to achieve something, if you want to win, always listen to your heart. And if your heart doesn't give you any answers, close your eyes and think of your parents. And then, you will cross all the hurdles.. all your problems will vanish, victory will be yours. Only yours.

2. Life offers you many paths to choose from. You must always choose the one that is right, the one where you don't have to bend, where you don't fall. Never take a step in life that will bring shame to your family name or prestige. Anyone can make money, but earning respect is not everyone's cup of tea.

3. My father always says that no one becomes small by asking for forgiveness. And the one who forgives owns a big heart.

4. Ever since I can remember I have loved you. Loved you very much. But it isn't your fault. Just because I dreamt of marrying you, doesn't mean you have to marry me. And if you worried that I will miserable, yes I will be. I will feel very bad, it will hurt a lot to. But life doesn't stop, does it? Perhaps a few years from now I can laugh at the fact that I love you who could not become mine. Because he was never mine. And my love story remained incomplete. But do me a favor, please complete your love story.

5. Where did I think, Dad? I didn't think at all. I just loved.. love.

Kabhi Khushi Kabhie Gham

Why is that a father is never able to tell his son how much he loves him? He's never able to embrace him and say 'I love you mu son'?

And the mother? She keeps repeating it, whether her son listens to it or not.

But that doesn't mean a father loves his son any less.

No one can fathom the amount of love that a mother has for her son, not even the mother. Because there is no measure for a mother's love. It's an emotion that can only be felt, a mother's emotion.

Note: ini adalah narasi yang diucapin sama pemeran Papa dan Mama Rahul (Amitabh Bhachan & istrinya), di film Kabhi Khushi Kabhie Gham yang udah entah untuk keberapa kalinya gua tonton. Gua suka banget sama kalimat yang di-bold itu. :)

Minggu, 20 Januari 2013

Twitter

Nama
(Twitter) @blablabla

Begitulah yang belakangan ini gua sadari terjadi di berbagai layar televisi negeri kita (atau jangan-jangan negeri lain juga?). Dulu, waktu twitter baru booming, cuma acara-acara aja yang ada akun twitternya dipampang di layar tivi, itupun nggak semua acara punya. Sekarang, hampir semua acara punya akun twitter sendiri yang namanya bakal dipajang di layar, bahkan akun twitter pembawa acaranya pun ikutan dipajang juga. Sekarang ini rasanya akun twitter itu udah jadi suatu kebutuhan tersendiri untuk dicantumkan sebagai identitas seseorang.

Waktu twitter belum booming dan facebook masih merajai dunia maya negeri ini, kayaknya nggak ada yang kayak begitu, pemasangan akun twitter di layar kaca maksudnya. Mungkin karena memang nama facebook nggak cuma bisa dipakai satu orang makanya gitu. Kalau twitter kan satu orang satu dan nama yang sama nggak mungkin dipakai sama orang lain kecuali salah satu udah ngehapus akunnya. Mungkin karena itu akun twitter bisa dijadiin identitas seseorang.

Gak ada masalah sih buat gua, mau orang jadiin akun twitternya buat identitas atau nggak. Gua cuma amazed aja sama gimana social media sekarang seolah-olah udah berubah 'kasta' kebutuhannya, dari sekunder MUNGKIN jadi primer.

Rabu, 09 Januari 2013

Film Bermutu Bisa, Kenapa Nggak Dengan Serial? :)

Nonton Sedap Malam di RCTI malam ini karena ada pemain dari film '5cm'. Mereka bilang kalau film mereka sampai sekarang (hampir sebulan) masih menduduki urutan pertama film dengan penonton terbanyak. Fedi Nuril bilang kalau film ini bahkan penjulannya melebihi penjualan tiket untuk film Hollywood yang sekarang tayang di bioskop dan itu bukti nyata kalau film kita masih bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri.

Gua juga setuju banget sama apa yang dibilang. Film Indonesia itu masih banyak peminatnya, yang penting filmnya bermutu baik. Jadi, kalau film bermutu sudah banyak yang merintis dan terbukti berhasil, kenapa tidak dengan serial Indonesia? Pasti bisa juga serial bermutu memenangkan hati masyarakat kita.

Note: gua kenapa berapi-api gini ya soal serial Indonesia yang bermutu? Haha. Entahlah. Mungkin gua benar-benar rindu hal ini jadi kenyataan. :)

Butuh Tontonan Cerdas dan Mencerdaskan

Jadi, beberapa hari yang lalu gua baca status salah satu teman di Facebook yang isinya tentang tontonan anak-anak di luar negeri yang 'ngajarin' tentang penelitian, observasi, dan tata cara/aturannya gitu lah atau semacamnya. Di ujung statusnya dia nanya, kalo di Indonesia sinetron anak-anak (contoh Putri Bidadari) itu isinya apa ya? Gitu. Hahaha pas baca rasanya pengen bilang setuju banget sama dia.

Tadi, sekitar satu jam yang lalu, gua post status di Facebook yang intinya gua pengen banget tontonan di Indonesia itu bisa lebih mencerdaskan. Oke, berita-berita gitu atau talkshow mungkin ada beberapa yang mencerdaskan, tapi masih banyak yang nggak. Tapi dari semua jenis tontonan, yang paling-paling gua pengen untuk menjadi lebih cerdas adalah sinetron.

Gua suka banget nonton sinetron, dulu. Sepuluh tahun lalu menurut gua sinetron Indonesia itu masih bisa dibilang bagus. Kenapa? Karena ditayangkan satu kali seminggu, ceritanya lebih serius, penampilan (akting) para pemainnya masih sangat baik, dan sinematografinya juga masih bagus (karena dikerjakan dengan serius dan nggak diburu-buru waktu tayang). Ide ceritanya mungkin kurang lebih sama dengan yang sekarang ada, tapi lebih sedikit delay dan adegan dramatis yang lebay.

Sejak sinetron Indonesia itu striping, gua merasa semakin banyak kemunduran dalam sinetron Indonesia. Jumlah episode yang makin banyak cuma jadi satu-satunya 'kemajuan' yang ada menurut gua. Dulu, ada sinetron Tersanjung yang jilidnya dari 1-6 dan masih ada sekuelnya dengan judul yang beda yang tayang sejak gua masih di TK sampai gua SMP. Tapi dari durasi tayang yang lebih dari 6 tahun itu, jumlah episodenya cuma sekitar 300an. Beda dengan sinetron sekarang yang bisa tayang setiap hari selama satu tahun penuh dan masih di lanjut jilid berikutnya di tahun berikutnya. -_- Tapi anehnya masih aja banyak iklan yang mensponsori tayangan-tayangan macam ini, walaupun nggak bermutu. Kenapa ya?

Jaman dulu, sinetron itu kalo waktu tayangnya sejam yaudah sejam aja, termasuk iklan. Jadi kalo dipotong iklan mungkin durasinya paling cuma 45 menitan aja. Jaman sekarang? Gua bahkan pernah nonton salah satu sinetronnya Nikita Willy *lupa judulnya apa* yang tayang dari jam 8 malem(?) sampe jam 11 malem. Gila banget! Tapi katanya rating sinetron itu yang paling tinggi, dengan durasi 3 jam. Ckckckck ._.

Dulu gua nonton drama seri Taiwan, dan takjub sama mereka yang bisa bikin serial yang jumlah episodenya cuma belasan atau 20an. Pokoknya nggak sebanyak jumlah episode sinetron deh. Terus drama Korea mulai marak dan gua juga suka. Mereka juga sama, satu drama bisa masukin nilai-nilai dan konflik-konflik yang menarik dalam beberapa belas episode aja. Dorama Jepang juga begitu. Serial dari US juga begitu. Bahkan nggak cuma durasi dan jumlah episode aja yang bikin gua takjub sama drama/serial luar negeri, tapi juga sama ide-ide cerita yang mereka angkat karena ada drama/serial yang berani ngangkat hal-hal yang masih kontroversial di masyarakat(nya) dari sekadar cerita cinta belaka. Walaupun memang unsur percintaan masih tetap ada di drama-drama itu, sebagai bumbu pelengkap mungkin(?)

Gua nonton Lie To Me dan berkhayal, seandainya ada serial Indonesia yang berani ngangkat tema cerita seperti ini. Gua tahu memang cerita semacam ini nggak sesuai dengan 'permintaan' masyarakat, tapi siapa tahu masyarakat suka bukan kalau aja ada yang mau bikin? Toh selama ini belum pernah dicoba (sepertinya).

Temen gua nonton sebuah ftv yang di dalamnya menayangkan tentang orang 'gila' yang masih aja dipasung sama masyarakat. Dia bikin kicauan soal ini di Twitter dan bilang kalau dia berharap media nggak nunjukkin hal semacam itu. Dia bilang seharusnya media jadi sarana pencerdasan bagi masyarakat tentang bagaimana harusnya menangani orang yang dibilang gila.

Gua setuju banget sama dia. Ada banyak banget mitos-mitos yang berkaitan dengan psikologi di masyarakat yang belum diluruskan. Dan seharusnya media lah yang membantu pelurusannya bukan malah makin melencengkan masyarakat ke pemahaman yang salah.

Gua rindu tontonan, tayangan, atau sinetron yang nggak melulu isinya soal cinta-cinta remaja, agama, perjuangan orang yang terzalimi, kehidupan si miskin yang selalu bersyukur dan akhirnya hidup senang, atau ide-ide cerita lainnya yang sering muncul di sinetron Indonesia. Gua rindu tayangan yang lebih bermutu di televisi atau media-media Indonesia, yang mendidik dan mencerdaskan.

Kata temen gua, harapan gua itu susah diwujudkan. Karena tayangan cerdas macam itu nggak cocok sama masyarakat Indonesia. Iya memang tayangan kayak gitu nggak cocok sama masyarakat kita, karena masyarakat kita belum semuanya cerdas dan menginginkan yang sama kayak gua, adanya tontonan-tontonan yang bermutu. Tapi kayak gua bilang sebelumnya, toh belum pernah dicoba, mana bisa tahu kalo masyarakatnya memang nggak suka? Lagipula, siapa tahu kan dengan tayangan yang lebih cerdas bisa membantu mencerdaskan bangsa ini.

Gua, dengan nonton Lie To Me jadi mengembangkan minat sama Microexpression, begitu juga mungkin orang lain yang nonton. Ini menurut gua, salah satu contoh yang nyata dari gimana tayangan bisa mengubah penontonnya mulai dari minat, cara berpikir, cita-cita, dan banyak lagi elemen hidup seseorang. Bukan berarti gua menentang adanya tema cinta, agama, atau perjuangan hidup dalam film tapi mungkin ketimbang jadi tema utama mungkin hal-hal itu bisa jadi insight aja yang dimasukin dalam tayangan itu. Contohnya Lie To Me, yang bisa masukin semua insight itu ke dalam serial 3 musim yang jumlah episodenya nggak lebih dari 50.

Temen gua bilang dia pengen bikin Production House suatu saat nanti dan membuat tayangan-tayangan yang mencerdaskan. Gua sangat suka ide ini. Gua berharap keinginan dia bisa segera terwujud. Atau harapan gua deh tentang tayangan bermutu dulu yang terwujud. Semoga. Amin.

Kalau tontonannya udah cerdas, siapa tahu penontonnya yang adalah masyarakat juga bisa jadi cerdas.

Rabu, 02 Januari 2013

Foto waktu kecil

Jadi hari ini gua ke rumah Tulang gua, yah tahun baruan gitu.. Karena rumahnya deket, jadi kami jalan kaki ke sana. Awalnya cuma gua berdua sama nyokap, adek gua yang satu les jadi gabisa ikut dan yang satu lagi katanya capek habis pulang jalan-jalan ke Punclut.

Eh tau-tau adek gua yang bilang capek itu dateng. Dan dateng-dateng langsung bilang, "Kak, liat foto waktu kita kecil tea yuk." Awalnya gua bingung, foto waktu kecil apaan. Eh ternyata maksudnya foto waktu dulu dia dibaptis puluhan *tsaah, belasan tahun yang lalu gitu.

Begitu album fotonya diambil, kita nyari2 fotonya terus difotoin. Lucu deh mukanya waktu itu. Eh adek gua bilang gini, "Ih si Kanop mah kenapa waktu kecilnya lucu ai udah gedenya jelek? Eh engga ketang, semuanya pada kaya gitu.. waktu kecilnya pada cantik/ganteng ai udah gedenya...."

Iya juga ya, kok bisa kayak gitu ya? :p

Senin, 31 Desember 2012

Harapan Tahun Baru, Harapan Setahun Ke Depan

Sebuah kicauan di linimasa berkata begini, "@TweetRAMALAN: SCORPIO [2013] , Buka hati Anda, karena sepahit apapun masa lalu, menghindari cinta karena takut disakiti justru membuat berakhir kesepian."

Waktu saya baca itu, saya ngerasa ada benernya juga kicauan itu. Pada akhirnya saya akan kesepian kalau saya nggak mencoba membuka hati. Tapi yang jadi harapan saya tahun depan adalah, semoga sang pangeran tampan mau dengan berbaik hati dan berani membawa kunci serta membukakan hati dari budak yang nista ini.

Tidak cuma itu. Harapan tahun depan juga, saya bisa dapat kelompok KAUP (Konstruksi Alat Ukur Psikologis) yang baik dan menyenangkan dan bisa diajak kerja sama, serta semoga lulus mata kuliah ini dengan nilai yang memuaskan. Saya juga berharap IP semester lalu supaya bisa meningkat, drastis kalo bisa, supaya semester depan saya bisa ambil mata kuliah seenggaknya 22 SKS. Saya berharap semua mata kuliah semester ini lulus, walaupun sudah ada satu mata kuliah yang saya pasrah akan nilainya. Saya berharap semester depan bisa lebih baik dan lebih rajin.

Saya juga berharap semester depan bisa jadi orang yang lebih baik, lebih rajin, dan lebih peka terhadap orang lain. Bisa juga jadi orang yang lebih sabaran, lebih mau mendengarkan, lebih mau diam, lebih banyak introspeksi dan evaluasi, serta memperbaiki diri.

Saya berharap tahun depan dan tahun-tahun ke depannya saya bisa jadi anak yang lebih baik untuk orang tua saya, jadi kakak yang lebih baik dan bisa dibanggakan untuk adik-adik saya, jadi mahasiswa yang lebih baik juga. Saya juga berharap adik saya lulus UN (dua-duanya) dengan nilai yang memuaskan dan bisa diterima di sekolah lanjutan yang diinginkan. Saya berharap adik saya Elsa bisa masuk UI. Saya sih nggak masalah masuk fakultas/jurusan apapun (tapi kalo bisa sih jangan masuk psiko juga), yang penting masuk UI dan bisa bertahan. Saya juga berharap bisa lulus tepat waktu pada waktu yang tepat.

Masih banyak harapan saya, tapi akan sulit kalau harus menuliskannya satu per satu di sini. Pegel, karena saya membuat ini dari ponsel. Semoga harapan saya banyak yang terkabul, kalau bisa sih semua :p

Kamis, 27 Desember 2012

Pada Akhirnya

Pada akhirnya, sekeras apapun kau berusaha
Kau akan kembali kepada Tuhan
Mengandalkan lagi kekuatan-Nya yang jauh lebih berdaya daripadamu
Untuk menopang dan menguatkanmu menjalani kehidupan setelah ujian

Setelah berusaha dan berusaha
Tapi tidak yakin akan hasil akhirnya

Kau akan kembali pada-Nya
Memohon kebaikan dan kebajikan
Sebagai bagianmu
Atas hasil usaha dan kerja kerasmu
Pada akhirnya

Rabu, 29 Agustus 2012

Hancham Jinaseo

Hancham Jinaso (After A Long Time) - Baek Ji Young - OST Rooftop Prince

Maju bomyo nanudon yegideul
Uri dulman aratton yegideul
Jiulsu omnabwa borilsun omnabwa
Itji mothanabwa

Oren mane dullobon gorideul
Igireul jinal temyon joahetdon giogi
Jakku tto-ollaso, balgireul momchunda

Hancham jinaso na jigeum yogi waso
Keuttega geuriwoso
Moreunje sarado senggakna dora

Keuron noraso jakku nune balbyoso
Hamke bonen sigandeul
Chuokdeuldo byolchorom soda jineunde
Non ottoni

Hengbokheman boineun saramdeul
Naman honja wero i nameun gotman gataseo
Aninchokhebwado ni senggakginanda

Hancham jinaso na jigeum yogi waso
Keuttega geuriwoso
Moreunje sarado senggakna dora

Keuron noraso jakku nune balbyoso
Hamke bonen sigandeul
Chuokdeuldo byolchorom soda jineunde
Nunmuri na

Yogiso nal gidarineun bolsu iseulka
Keutten marejulsu iseulka
Iron ne maeumeun

Pogosiposo do pogosipojyoso
Keuron noraso nan no bakke mollaso
No obsi salda boni
Modeun-ge huero gateukha tona

Niga obsoso hojonhan-ge do mannaso
Oneuldo balgoreumeun
I jariga geuriwo kaji mothago
Bullo bonda


---- gua suka banget sama lagu ini, padahal gua nggak ngerti arti dari lagunya apa dan nggak juga nyari tau artinya apa. lagunya bagus, penyanyinya juga bagus. kayaknya lagu2 ost yang dinyanyiin sama baek ji young jadi hit mulu, bagus sih.

*Oh ya, ini lagu nggak sesuai sama penulisan latin bahasa korea soalnya ribet bacanya. jadi gua sesuaikan aja biar gampang dibaca dan diikutin sambil nyanyi2.

Kamis, 23 Agustus 2012

Ah ya, hari ini dia ulang tahun!

Adikku, Agus Simbolon.. hari ini ulang tahun.

Kalau saja dia masih hidup, hari ini dia pasti sudah berumur 15 tahun. Sudah remaja. Sayang, dia sudah pergi lebih dulu waktu usianya baru 4 tahun 5 bulan.

Dia meninggal karena ada semacam gumpalan cairan di otaknya yang ditemukan saat umurnya baru 6 bulan. Gumpalan itu membuat dia tidak bisa bertumbuh seperti anak umumnya. Badannya sebesar anak umur 1 tahun, tapi ia cuma bisa berbaring, tidak bisa berdiri, tidak bisa merangkak, bahkan tidak bisa duduk. Badannya juga kaku. Dia akan menangis kencang-kencang kalau badannya didudukkan hanya untuk diberi makan. Kadang kesal sendiri, karena semua jadi serba salah, karena tidak tahu bagaimana harus memperlakukan adik kecilku yang satu ini.

Dulu, waktu dia baru lahir, aku yang paling semangat merawat atau menjaganya, karena akhirnya aku punya adik laki-laki juga. Dia itu tampan, kulitnya putih, pokoknya ganteng banget deh. Aku seneng banget ngurusinnya. Aku bahkan sampai kasih nama panjangnya, Agus Yohanes Mangihut Raja Simbolon. Tapi sayang nggak sempat dimasukin ke akta lahir. Dia bahkan nggak punya akta kelahiran karena waktu umurnya baru 6 bulan itu tadi ketahuan kalau dia sakit, jadi orang tuaku nggak sempat mikirin bikin akta dan lebih sibuk cari pengobatan untuk adikku ini. Biar bagaimanapun dia anak laki-laki dan keluarga kami kan keluarga Batak, anak laki-laki adalah kebanggaan dan harapan keluarga. Jadi mereka berusaha keras mencari cara agar dia bisa sembuh. Sayang, setelah lebih dari 6 bulan berobat dan keluar uang yang lumayan besar, dokter angkat tangan untuk kasusnya, katanya Agus nggak usah diobati lagi, sayang uang, toh dia juga nggak bisa sembuh. Hancur, begitulah yang dirasakan orang tuaku. Mereka nggak punya harapan untuk bisa melihat adikku ini tumbuh besar dengan normal. Sebagai kakak, aku juga sedih walaupun aku yang baru berumur 7 tahun itu tidak mengerti betul dengan apa yang sedang terjadi.

Aku merawat dan mengurusnya, kadang dengan senang hati, kadang dengan sedih hati, kadang juga dengan hati kesal. Tapi walau begitu aku menyayanginya, sangat menyayanginya.

Adikku sayang meninggal bulan Januari 2002 (kalau tidak salah tanggal 9, aku lupa pastinya tanggal berapa). Tahun ini sudah tahun kesepuluh sejak dia meninggal, tapi aku tidak pernah lupa bagaimana dulu aku senang bisa membuat dia tersenyum atau kadang tertawa walaupun tawanya agak kesulitan. Bagiku senyumnya itu sangat manis, tidak pernah bisa kulupakan. Ya, sudah sepuluh tahun tapi aku tidak pernah lupa bagaimana wajahnya walaupun aku tidak pernah punya fotonya.

Kadang aku berkhayal, seandainya adikku ini tidak sakit, seandainya dia sekarang masih hidup, seandainya ini, seandainya itu.. tapi, semua cuma bisa berhenti di andai-andai. Kenyataannya tetap bilang adikku sudah meninggal, terbaring di antara tanah di pemakaman.

Adikku sayang, semoga kamu sudah senang ya di dunia sana sama Bapak sama Dede Samuel. Sekarang mungkin kamu udah besar ya? Udah bisa jalan dan lari, nggak cuma bisa tiduran aja.. Senang-senang ya di sana, kami semua sayang kamu.

HAPPY BIRTHDAY, LIL BRO!

I MISS YOU.. WE MISS YOU. Kamu dan semua yang sudah pergi akan selalu ada di ingatan kami, karena buat kami kalian tidak pernah benar-benar pergi.

Goodreads - Ternyata Selama Ini Saya Belum Banyak Baca Buku

Pertama kali liat situs ini itu tahun 2011, lupa bulan apa. Katanya ini situs yang terpercaya untuk orang-orang yang suka baca/suka nulis. Di sini bisa liat buku-buku yang bagus, yang recommended untuk dibaca, buku yang kurang menarik, buku yang ini dan yang itu. Tapi waktu itu masih belum berani gabung karena lihat teman2 yang gabung itu adalah orang yang hobinya baca buku dan jadi merasa minder sendiri, merasa belum cukup banyak membaca buku.

Lalu, hari ini, entah kenapa berani juga gabung situs ini.. walaupun tetep aja buku yang dibaca juga masih belum banyak. Pas pertama kali gabung, ternyata ada tahap menentukan genre buku yang disukai, tapi tak lewatin, biar cepet. Terus ada tahap me-rate buku-buku yang pernah dibaca supaya dapat rekomendasi buku bagus dari goodreads, 20 buku minimal! Terus yaudah deh, cari buku2 yang udah pernah dibaca, dari judul, penulis, sampai nomer isbn pun bisa dicari *tapi saya cuma cari dari judul atau penulis aja*. Setelah mencari, menemukan, dan me-rate, ternyata untuk mencapai jumlah minimum 20 buku itu susah juga. Dari semua buku yang pernah dibaca, awalnya cuma bisa nambah 5 buku, terus 13, terus 17, terus akhirnya 22, terus 27.

Setelah me-rate lebih dari 20 buku, rekomendasi yang dikasih itu banyakan temanya fantasi macam Harry Potter, Twilight, dan juga novel.

Kemudian setelah gabung Goodreads, saya sadar kalau ternyata selama ini saya belum cukup banyak baca buku. Dan saya sadar kalau ternyata urat baca saya semakin kendor semakin hari, saya semakin malas baca. Kalau dulu orang tua saya bangga liat saya baca buku, sekarang orang tua saya lebih sering ngomel-ngomel karena saya lebih sering menatap layar ponsel ketimbang menatap halaman-halaman buku. Yah, semoga saja setelah gabung dengan goodreads saya bisa semakin rajin dan semakin banyak baca buku. Semoga.

Selasa, 09 Agustus 2011

Malcolm Gladwell, Adiktif.

Berapa hari ini gua lagi baca buku ini.
 
buku keren keempat yang ditulis sama Malcolm Gladwell. Seperti buku-buku Gladwell lainnya, buku ini juga adiktif banget, sekali dipegang, suka susah mau dilepasinnya.

Awalnya gua nggak tertarik sama bukunya Gladwell. Pertama kali gua denger nama Gladwell aja taun lalu pas temen gua baca satu bukunya Gladwell yang judulnya Blink. Sabrina Lutfia, sang teman yang sedang membaca buku itu, serius banget bacanya, padahal dia baca itu buku di kantin asrama yang super ribut. Gua tanya sama dia, memangnya itu buku apa sih sampe sebegitu seriusnya dia baca. Dia bilang itu buku bagus. Ada lagi temen gua yang baca itu buku dan sedang mencari bukunya Gladwell yang lain. Eh, lama kelamaan beberapa temen bilang kalau bukunya Gladwell itu keren. Ditambah lagi dosen Psium 1 gua juga cerita sekilas soal bukunya Gladwell pas lagi ngajar di kelas. Gua jadi penasaran. Buku apa sih sebenernya buku ini? Bagus banget kayaknya.

Dan gua meminjam buku ini ke Saber (panggilannya Sabrina) tapi dia bilang dia belum selesai dan nggak mau pinjemin bukunya. Gua coba pinjem ke yang lain tapi saking pada sayangnya kali sama itu buku sampe nggak ada yang mau pinjemin. Akhirnya ketika pulang ke Bandung, gua coba nyari itu buku ke Palasari (pusat buku murah di Bandung, bajakan soalnya). Ya ampun, di sana aja susah banget nyari bukunya! Tapi untunglah gua dapet bukunya, walaupun buku bekas dan cetakan yang lama.

Gua baca buku itu, dan waw! Bukunya memang keren banget, dan sungguh adiktif. Bahasanya memang agak sulit--menurut gua yang nggak biasa baca buku semacam ini, karena gua biasanya baca novel--tapi apa yang ditulis itu sangat menarik buat dibaca dan beberapa gua praktekkin (walaupun hasilnya nihil).

Blink itu isinya tentang gimana seseorang bisa menilai sesuatu hanya dalam dua detik pertama dengan hasil yang hampir pasti benar. Yang paling gua inget adalah tentang para ahli seni patung yang bisa menilai sebuah patung yang harganya sangat mahal (karena menurut penjualnya berasal dari zaman apa gitu, gua lupa) sebagai patung palsu yang dibuat di bengkel rumahan beberapa tahun sebelum patung itu ditawarkan ke museum itu. Satu lagi tentang eksperimen yang intinya mau menilai anggapan orang kulit putih terhadap kulit hitam yang diteliti sama para peneliti Harvard (kalau nggak salah juga). Menurut hasil penelitian, orang kulit putih cenderung mengidentikkan orang kulit hitam dengan kejahatan dan beberapa kesalahan polisi terjadi cuma gara-gara kecenderungan itu. Pokoknya buku ini keren dan oke punya.

Beberapa bulan kemudian, pas lagi ada diskon di Gramedia, gua liat bukunya Gladwell yang lain. Dan entah karena apa, gua beli itu buku-buku (Outliers, Tipping Point, sama What The Dog Saw). Sumpah, keren abis deh buku-bukunya. Nggak nyesel gua beli itu buku.

 Tipping point isinya tentang adanya fenomena dimana suatu ide itu menular dengan cepat kayak flu dan beberapa orang yang memang berbakat dalam menciptakan fenomena ini. Ada Paul Revere yang ahlinya menyampaikan informasi secara ketok tular atau word of mouth dan membuat orang percaya sama informasinya, ada cerita soal demam Blue's Clues, ada juga penjelasan soal kenapa harusnya kasus bunuh diri itu nggak ditayangkan di berita. Tipping Point adalah saat ajaib ketika sebuah ide, perilaku, pesan, dan produk menyebar seperti wabah penyakit menular, itu kata bukunya.

 ada juga bukunya yang lain yang isinya tentang kisah-kisah sukses dan faktor-faktor pendukungnya. Nggak selamanya orang pandai bisa sukses, nggak selamanya juga orang yang cerdas dan ber-IQ tinggi bisa sukses, kenapa orang-orang China lebih pandai berhitung matematika daripada orang Amerika, kaidah 10.000 jam, dan macem-macem. Bukunya keren, keren abis. Ada kalimatnya di buku ini yang gua suka,

Tidak ada seorangpun yang bangun sebelum subuh
selama tiga ratu enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu
membuat keluarganya kaya raya.

Dan buku terakhir yang gua baca adalah buku yang di atas itu, What The Dog Saw. isinya tentang apa yang kita lihat dari sesuatu. mengapa seorang atlet profesional yang sudah sangat terlatih bisa tiba-tiba gagal dan bertindak seolah-olah ia masih amatir ketika ada di grand final olimpiade, kenapa kita terlalu menganggap hebat orang pintar, mengapa kejeniusan seseorang dikait-kaitkan dengan kecepatannya menghasilkan sebuah karya dan banyak tulisan-tulisan kece dia lainnya yang pernah dimuat di The New Yorker, majalah tempat dia bekerja.

Pokoknya bukunya Malcolm Gladwell itu keren dan adiktif. Walaupun nggak semua orang akan berpikiran sama dengan gua, tapi menurut gua, buku dia itu, sekali dibaca, susah buat jadi nggak tertarik sama bukunya :)